Cara Gila Untuk Mengingatkan Orang Gila
Table of Contents
Tidak Hanya itu saja, Para Koruptor juga mendapat perlakuan khusus. Para pencuri uang rakyat yang merugikan Bangsa dan negara malah dipuja karena kekayaannya dengan perlakuan dan tempat khusus dimata hukum. Edan Bukan? Dan salah satu cara untuk memberikan nasehat kepada masyarakat yang ikut-kutan gila adalah menggunakan cara yang gila pula.
Berikut ini ada sebuah cerita karangan Fadilah Raharyo mungkin bisa menjadi Inspirasi. Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena ditengah malam buta saat enak-enak mlungker di atas tempat tidur dengan selimut tebal tiba-tiba terdengar adzan berkumandang dari sebuah mushalla setempat melalui pengeras suara yang memecah keheningan malam.
Warga berbondong-bondong mendatangi mushalla itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya... Mbah Sadi, suaranya sudah dikenal dikampung itu, umurnya sudah mencapai kepala tujuh. Warga dipenuhi pertanyaan, mengapa Mbah Sadi adzan pada jam sepuluh malam..?? Ketika warga sampai di pintu mushalla, Mbah Sadi baru selesai adzan dan mematikan sound system.
“Mbah tahu gak, jam berapa sekarang..??” kata Pak RT. “Adzan apa jam segini, Mbah..??” “Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat,” sambar Roso dengan nada prihatin. Sekarang banyak betul aliran macam-macam. “Ah, dasar Mbah Sadi sudah gila. “Kalau nggak gila, mana mungkin adzan jam segini..??”
“Kalian ini......,” jawab Mbah Sadi tenang. “Tiap hari, waktu saya adzan untuk memanggil Muslim untuk menunaikan sholat, tidak seorang pun dari warga yang mau datang ke musholla, padahal saya tahu semua warga beragama Islam. Sekarang saya adzan tengah malam dimana tidak ada waktu sholat yang diwajibkan untuk ditunaikan, kalian malah berbondong-bondong ke mushalla. Satu kampung lagi...!!! Sebetulnya ... SIAPA YANG GILA....???” dan SIAPA YANG SESAT???? ".Jawab mbah Sadi Tenang.
Wargapun satu persatu balik kanan dan pulang ke rumah masing-masing tanpa berkata-kata lagi. Termasuk Pak RT yang kemudian menjauh perlahan-lahan. Tak berani melihat wajah Mbah Sadi. Seperti mendapat sebuah tamparan keras.
Mawas diri...dipanggil dan diingatkan yang baik-baik kadang-kadang malah kita cuek saja dan tidak mau mendengarkan. Tetapi, begitu ada kesempatan membodoh-bodohkan dan memarahi orang, kita menyempatkan diri.. Introspeksi diri sendiri , sebelum menilai orang lain. Karena belum tentu orang yang kita anggap salah, justru dia yang lebih benar.
Orang yang kita anggap bodoh, justru dia yang lebih pintar. Orang yang kita anggap sesat, justru dia yang lebih bertaqwa dan lebih dekat dengan Allah SWT. Semoga kisah pendek ini bisa menjadi renungan kita bersama agar senantiasa memperbaiki diri sendiri dan tidak menganggap remeh orang lain. Ingat, gajah di pelupuk mata tak tampak, kuman di seberang lautan tampak. Begitulah manusia.
Post a Comment